Ibu Petarung

Kali ini saya akan membagikan sebuah pengalaman saya setelah berkeliling nusantara.
  Bercerita tentang keluarga di sudut rumah yang lapuk.  Seorang ibu tanpa jiwa, hanya berlumuran adrenalin di dalam tubuh nya.  Dengan tiga darah perang nya,  2 panglimah yang rapu,  Dan 1 permaisuri kebebasan. dari blora ke surabaya dan dari surabaya ke mojokerto, 3 destinationnya membawanya ke medan perang,  Peperangan yang penuh luka dan runtuhan dara air mata, 
  Berawal siksaan di dalam istana hingga berbuah penindasan paling mendasar,  Sang ibu petarung memilih untuk meninggal kan istananya hanya bermodal kan sebilah pedang yang penuh karat, berjalan tanpa alas kaki di tanah penuh kaca,  Sampai akhirnya tiba di istana terbesar nomer 2 di nusantara,  Mengawal i hidup baru dengan tongkat berbuluh hitam menyusuri jalan demi jalan.  Hanya untuk upeti dalam perut,  Perut yang lantas berbunyi di hiraukan hanya untuk melihat satu jendral perang agar terus menatap dunia. Sang ibu petarung melawan satu demi satu musuh yang terus menikap jantungnya.  Ibu petarung tanpa jiwa yang berjalan seolah-olah itu hanya raga tanpa kandungan nyawa di dalamnya.  Hingga sampai di titik istana yang penuh filosofi bagi nusantara,  Ibu petarung merasa ini akhir dari petarungan besarnya,  Ternyata itu hanya fanah, sekali lagi ibu petarung harus kuat merasakan jantungnnya di tikam lebih banyak dan lebih dalam,
Ibu petarung tersenyum melihat jendral keduanya tersenyum keduania.  Tapi rasa senyum ibu petarung seolah itu hanya kiasan kaena hadirnya sebuah tombak yang lebih besar dari pada pisau yang menikam jantungnnya,  Sekali lagi ibu petarung berdiri untuk bangkit melawan tombak yang menembus jantungnya,  Tiba-tiba sang permaisuri datang membawa air surga untuk di minum si ibu petarung, ibu petarung pun puli kembali dan berdiri tegak siap melawan tombak-tombak yang akan datang menghadangnya. Perang baru pun di mulai,  Ibu petarung merasa kokoh terhadap musuhnya,  Tak di sangkah ibu petarung tersungkur kembali jatuh ke tanah,  Karna musuh yang tak terlihat menusuknya dari belakang,  Tapi sekali lagi ibu petarung bangkit kembali. Demi untuk melihat sang jendral pertama,  Memulai perang pertamanya,  Ibu petarung bahagia tertawa lepas dengan senyumnya,  Ibu petarung merasa perang hampis segerah usai.  Dan kademai an mulai menunjukkan batang hidungnnya. Ibu petarung terus bangkit dan mulai menata semangatnya kembali.  Ibu petarung tersadar bahwa dia harus terus menunggu.  Akan tiba nya wajah kedamai an yang akan membawanya lepas landas ke udara..



(terus semangat ibu petarung perjuangan mu tak akan sia-sia)

0 komentar:

Posting Komentar

 
Wordpress Theme by wpthemescreator .
Converted To Blogger Template by Anshul .